Di antara sekian banyak karunia Allah yang harus disyukuri adalah diciptakannya manusia berpasang-pasangan, pria dan wanita, supaya mereka dapat hidup tenang, tenteram, dan penuh kedamaian. Lebih dari itu, diciptakannya manusia berpasang-pasangan sebagaimana makhluk-makhluk lainnya adalah salah satu dari tanda-tanda kekuasaan dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terkandung di dalamnya pelajaran-pelajaran yang amat berharga bagi manusia, khususnya bagi mereka yang mau berpikir.

Pernikahan memang bukan saja merupakan lembaga formal bagi penyaluran kepentingan dan kebutuhan manusia paling asasi, tapi juga merupakan lembaga yang mencerminkan ketinggian peradaban manusia. Oleh karena itu, Islam sebagai syariat Ilahi yang bersifat rahmatan lil ‘alamin amat menaruh perhatian terhadapnya. Bahkan, secara lengkap dan terperinci, Islam telah memberikan petunjuk tatanan dan aturannya.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ منكُم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ ،
“Wahai para pemuda, siapa saja di antara kamu yang mampu untuk menikah, menikahlah, karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menahan kemaluan.”
(HR Bukhari-Muslim)

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَ‌حْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُ‌ونَ ﴿الروم : ٢١﴾
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar-Rum [30]: 21)

Indonesia merupakan negara mayoritas Muslim terbanyak di seluruh dunia, namun tetap saja muncul pertanyaan yang menyangkut perihal pernikahan, yaitu bolehkah seorang Muslim menikah dengan seorang yang non-Muslim. Sering kali kita lihat di tengah masyarakat apalagi di kalangan orang yang berkecukupan dan kalangan selebriti terjadi pernikahan beda agama, entah si pria yang Muslim menikah dengan wanita non-Muslim atau sebaliknya, si wanita yang Muslim menikah dengan pria non-Muslim.

Terkadang kita hanya mengikuti pemahaman sebagian orang yang sangat mengagungkan perbedaan agama, yaitu pemahaman liberal. Tak sedikit yang terpengaruh dengan pemahaman liberal semacam itu, yang mengagungkan kebebasan, yang pemahamannya benar-benar jauh dari Islam. Paham liberal menganut keyakinan perbedaan agama dalam pernikahan tidaklah jadi masalah. Namun bagaimana sebenarnya menurut pandangan Islam yang benar mengenai hukum pernikahan beda agama itu? Dan bagaimanakah status pernikahan tersebut, apakah sah dalam Islam?

Narasumber:
Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.

———
Saksikan “Kacamata Islam”, setiap Ahad malam, pukul 20:00 WIB dan Sabtu siang, pukul 13:00 WIB
Hanya di Rodja TV

http://rodja.tv/1506

Sumber