Oleh
Ustazd Abu Ismail Muslim Al-Atsari

Allâh Pencipta seluruh makhluk, Dia memiliki semua sifat-sifat kesempurnaan. Di antara sifat-sifat kesempurnaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat hayat (hidup). Sifat hidup bagi Allâh tidak ada permulaannya dan tidak ada akhirnya, karena sifat-Nya sempurna yang tidak ada kekurangan dari sisi manapun juga.

DALIL AL-QUR’AN
Sifat hidup bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala ditunjukkan dengan nama Allah, yaitu Al-Hayyu, artinya Dia Yang Maha Hidup. Nama Al-Hayyu Allâh sebutkan lima kali di dalam Al-Qur’an.

Antara lain firman Allâh Ta’ala:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ

Allâh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Al-Hayyu (Yang Hidup kekal)  Al-Qayyum (terus menerus mengurus makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. [Al-Baqarah/2: 255]

Juga firman-Nya:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Allâh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Al-Hayyu (Yang Hidup kekal)  Al-Qayyum (terus menerus mengurus makhluk-Nya). [Ali Imran/3: 2]

Juga firman-Nya:

وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ وَقَدْ خَابَ مَنْ حَمَلَ ظُلْمًا

Dan semua wajah  tunduk (dengan berendah diri) kepada Al-Hayyu (Tuhan Yang Hidup Kekal) Al-Qayyum (terus menerus mengurus makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman. [Thaha/20: 111]

Di dalam tiga ayat di atas, nama Allâh Al-Hayyu, digabungkan dengan nama  Allâh Al-Qayyum. Nama Allâh Al-Hayyu berarti Maha Hidup, memuat sifat hidup bagi Allâh Ta’ala. Sedangkan nama Allâh Al-Qayyum berarti Maha Qayyumiyyah,  memuat sifat qayyumiyyah bagi Allâh Ta’ala, yang berarti berdiri sendiri dan mengurusi seluruh makhluk-Nya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

هذان الاسمان فيهما الكمال الذاتي والكمال السلطاني، فالذاتي في قوله: {الْحَيُّ} والسلطاني في قوله: {الْقَيُّومِ}، لأنه يقوم على كل شيء ويقوم به كل شيء.

Di dalam dua nama Allâh ini terdapat kesempurnaan yang berkaitan dengan Dzat Allâh dan kesempurnaan yang berkaitan dengan kekuasaan-Nya.  Kesempurnaan yang berkaitan dengan Dzat Allâh berada di dalam firman Allâh  ‘Al-Hayyu’, sedangkan kesempurnaan yang dengan kekuasaan-Nya berada di dalam firman Allâh ‘Al-Qayyuum’. Karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala itu mengurusi segala sesuatu dan segala sesuatu berdiri dengan pertolonganNya. [Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyah, 1/167]

Syaikh Ibnu Jibrin rahimahullah berkata: “Tonggak semua nama-nama Allâh adalah dua nama Allâh ini, makna semua nama-nama Allâh kembali kepada dua nama Allâh ini. Karena sifat hayat (hidup) mengharuskan semua sifat kesempurnaan. Tidak  ada satupun sifat kesempurnaan yang ketinggalan kecuali karena lemahnya sifat hidup. Maka jika sifat hidup Allâh Subhanahu wa Ta’ala itu sifat hidup yang sempurna, hal ini mengharuskan penetapan semua sifat kesempurnaan. Sedangkan nama Allâh Al-Qayyuum maka memuat kesempurnaan kecukupan-Nya  dan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Karena Allâh itu berdiri sendiri, sehingga tidak membutuhkan orang lain sama sekali, Dia yang mengurusi yang lain, sehingga yang lain tidak bisa berdiri kecuali dengan didirikan oleh-Nya. Maka dua nama ini merangkai semua sifat kesempurnaan dengan rangkaian yang sempurna”. [Syarah ath-Thahawiyah, 11/6, Syaikh Ibnu Jibrin]

Adapun ayat keempat dan kelima yang memuat nama Al-Hayyu adalah Al-Furqaan/25: 58 dan Ghafir/40: 65.

DALIL AS-SUNNAH
Sedangkan dalil dari as-Sunnah atau al-Hadits tentang sifat al-hayat (hidup) bagi Allâh maka banyak sekali. Di antara adalah:

عَنْ عُمَرَ بْنِ مُرَّةَ، قَالَ: سَمِعْتُ بِلاَلَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي، سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيَّ القَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ.

Dari Umar bin Murrah, dia berkata: Aku mendengar Bilal bin Yasar bin Zaid berkata: Bapakku bercerita kepadaku, dari kakekku, dia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan  ‘Astaghfirullah…(Aku memohon ampun kepada Allâh, tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, Al-Hayyu Al-Qayyum (Yang Maha Hidup dan Maha Qayyumiyyah), aku bertaubat kepada-Nya’, diampuni dosanya, walaupun dia pernah lari dari medan perang”. [HR. Tirmidzi, no. 3577. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani]

Di dalam hadits lain diriwayatkan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِفَاطِمَةَ: ” مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوصِيكِ بِهِ أَنْ تَقُولِي إِذَا أَصْبَحْتِ، وَإِذَا أَمْسَيْتِ: يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرَفَةَ عَيْنٍ

Dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fatimah, “Apa yang mencegahmu mendengarkan apa yang aku wasiatkan kepadamu, yaitu jika engkau memasuki pagi dan sore engkau mengucapkan  “Yaa Hayyu Qayyum (Wahai Yang Maha Hidup dan Maha Qayyumiyyah), dengan rahmatMu aku memohon dihilangkan kesusahan, perbaikilah seluruh urusanku, janganlah Engkau menyerahkan kepada diriku sendiri, walaupun sekejap mata. [HR. An-Nasai di dalam ‘Amalul Yaum wal lailah, no. 570; Al-Bazzar, no. 6368; dan Al-Hakim, no. 2000. Dihasankan oleh syaikh Al-Albani di dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib, no. 661]

DALIL AKAL
Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Keadaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki sifat hidup ditunjukkan oleh dalil akal dan sama’ (wahyu), yaitu ditunjukkan oleh al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah (al-Hadits). Sebelum kedatangan al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, akal telah menunjukkan bahwa Allâh itu wujud (ada), berdasarkan bukti yang sangat banyak terhadap keberadaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Dan keadaan Allâh Azza wa Jalla yang memiliki sifat ‘wujud’ menunjukkan dengan pasti bahwa Dia Maha Hidup, dan sifat hidup-Nya menunjukkan sifat-sifat yang banyak. Maka nama Allâh alHayyu ditunjukkan oleh akal sebelum kedatangan sama’ (wahyu). Demikian juga nama Allâh al-Qayyum dan sifat qayyumiyyah bagi Allâh Subhanahu wa Ta’ala , juga ditunjukkan oleh dalil akal dan sama’ (wahyu). Karena Allâh-lah yang mengurusi segala sesuatu. Akal menunjukkan bahwa keadaan Allâh sebagai Pencipta segala sesuatu, maka Dia juga yang mengurusinya, maka sifat qayyumiyyah ada pada Allâh Subhanahu wa Ta’ala ”. [Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah, hal: 36, Syaikh Shalih Alu Syaikh]

Selain itu bahwa sifat hidup adalah sifat kesempurnaan, sehingga manusia dan binatang yang memiliki sifat hidup lebih sempurna dibandingkan dengan batu atau kayu yang mati. Karena sifat hidup adalah sifat kesempurnaan, maka Allâh Sang Pencipta lebih berhak memiliki daripada makhluk.

Demikian juga akal menetapkan, jika Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak disifati dengan hidup, maka  Dia disifati dengan kebalikannya, yaitu kematian. Maka ini tidak masuk akal sama sekali. Bagaimana sesuatu yang mati menciptakan semua makhluk?! Maka tetaplah bahwa akal menetapkan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat hidup dengan sifat yang sempurna.

MAKNA AL-HAYYU (ALLÂH YANG MAHA HIDUP)
Sifat hidup Allâh Subhanahu wa Ta’ala diambil dari namaNya, Al-Hayyu, artinya Yang Maha Hidup. Syaikh Muhammad Khalil al-Harrâs rahimahullah berkata, Syarah Nûniyyah

ومعنى الحي: الموصوف بالحياة الكاملة الأبدية، التي لا يلحقها موت ولا فناء، لأنها ذاتية له سبحانه، وكما أنَّ قيوميته مستلزمة لسائر صفات الكمال الفعلية؛ فكذلك حياته مستلزمة لسائر صفات الكمال الذاتية من العلم والقدرة والإرادة والسمع والبصر والعزة والكبرياء والعظمة ونحوها اهـ.

“Makna Al-Hayyu adalah: Yang disifati dengan hidup yang sempurna dan abadi, tidak akan terkena kematian dan kebinasaan. Karena sifat hidup adalah sifat dzatiyah Allâh Azza wa Jalla . Sebagaimana sifat qayyumiyyah mengharuskan keberadaan seluruh sifat kesempurnaan yang berkaitan dengan perbuatan Allâh, demikian juga sifat hidup mengharuskan keberadaan seluruh sifat kesempurnaan yang berkaitan dengan dzat Allâh, yang berupa ilmu, kekuasaan, kehendak, mendengar, melihat, kemuliaan, kesombongan, keagungan, dan yang semisalnya”.

SIFAT ALLÂH SEMPURNA BERBEDA DENGAN SIFAT MAKHLUKNYA
Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat hidup, sebagian makhlukNya juga memiliki sifat hidup,  sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

Sesungguhnya Allâh menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allâh, maka mengapa kamu masih berpaling? [Al-An’am/6: 95]

Tentang makna firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala ‘Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup’,   Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata, “Dia mengeluarkan tangkai yang hidup dari biji tanaman yang mati dan mengeluarkan biji tanaman yang mati dari tangkai yang hidup, dan mengeluarkan pohon yang hidup dari biji buah yang mati, dan mengeluarkan biji buah yang mati dari pohon yang hidup”. [Tafsir ath-Thabari, 11/553]

Imam Ibnu Jarir rahimahullah juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu yang mengatakan, “Dia mengeluarkan air mani yang mati dari manusia yang hidup, kemudian mengeluarkan manusia yang hidup dari air mani”. [Tafsir ath-Thabari, 11/553-554]

Sehingga manusia itu memiliki sifat hidup, demikian juga binatang dan tumbuhan, walaupun dengan kehidupan yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu bahwa sifat hidup Allâh berbeda dengan sifat hidup makhluk. Hal ini sebagaimana kaedah yang telah dijelaskan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [Asy-Syûrâ/42: 11]

Pada permulaan ayat, Allâh Subhanahu wa Ta’ala meniadakan tamtsiil (penyerupamaan dengan makhluk); sedangkan pada akhir ayat, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan penetapan sifat-sifat bagi-Nya dengan hakekatnya. Dengan demikian, dari ayat tersebut menjadi jelas bahwa wajib menetapkan sifat-sifat Allâh dengan hakekatnya dengan tanpa menyerupakan Allâh sifat dengan sifat makhluk.

HIDUP ALLÂH ABADI, HIDUP MAKHLUK AKAN BERHENTI
Sifat hidup bagi Allâh adalah kehidupan yang tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya. Berbeda dengan kehidupan seluruh makhluk, dimulai dengan ketiadaan dan diakhiri dengan kebinasaan, kecuali makhluk yang Allâh jadikan kekal dengan kehendakNya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا

Dan bertawakkallâh kepada Allâh yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. [Al-Furqan/25: 58]

Firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala ‘Allâh yang hidup (kekal) Yang tidak mati’, yaitu bahwa Allâh memiliki sifat hidup yang kekal, hidup yang sempurna, tidak ada awalnya dan tidak ada akhirnya. Sesuatu yang kehidupannya ada awalnya, ini merupakan sifat kekurangan; demikian juga sesuatu yang kehidupannya ada akhirnya, ini merupakan sifat kekurangan, sedangkan Allâh Maha sempurna.

Di dalam sebuah hadits yang shahih, diriwayatkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَقُولُ: «أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لاَ يَمُوتُ، وَالجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ»

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa, “A’uudzu…(Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, Yang tidak ada sesembahan haq selain Engkau, Yang Dia tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia akan mati”. [HR. Al-Bukhari, no: 7383]

Di dalam hadits lain disebutkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ يَقُولُ: «اللهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ»

Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata, “Allaahumma…(Wahai Allâh, hanya kepada-Mu aku berserah diri, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku bertawakkal, hanya kepada-Mu aku selalu bertaubat, hanya dengan pertolongan-Mu aku membantah. Aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, Yang tidak ada sesembahan haq selain Engkau, janganlah Engkau menyesatkanku, Engkau Maha Hidup Yang Dia tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia akan mati”. [HR. Muslim, no: 2717]

HANYA ALLÂH YANG BERHAK DIIBADAHI
Karena hanya Allâh yang memiliki kesempurnaan di dalam sifat-sifatnya, memiliki sifat hidup yang kekal abadi selamanya, yang mengurusi seluruh makhluk-Nya, maka kewajiban hamba untuk beribadah kepada-Nya dengan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ۗ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allâh Tuhan semesta alam. [Ghafir/40: 65]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir  as-Sa’diy rahimahullah berkata, “Dialah (Allâh) Yang hidup, yang memiliki sifat hidup yang sempurna, yang mengharuskan sifat-sifat dzatiyah,  yang sifat hidup tidak sempurna kecuali dengan sifat-sifat itu, seperti sifat mendengar, melihat, berkuasa, berilmu, berbicara, dan lainnya dari sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan-Nya.  Tidak ada Tuhan  yang berhak disembah melainkan Dia; maka berdoa-lah kepada-Nya, ini mencakup  doa ibadah dan doa permintaan. Yaitu niatkan semua ibadah, doa, dan amalan, untuk wajah Allâh Ta’ala, karena ikhlas  itu diperintahkan”.  [Tafsir As-Sa’diy, QS. Ghafir/40: 65]

Oleh karena itu Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang musyrik jahiliyah yang beribadah kepada makhluk mati. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ ﴿٢٠﴾ أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.(Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan. [An-Nahl/16: 20-21]

Semoga Allâh Azza wa Jalla selalu memudahkan kita untuk beribadah dengan ikhlas kepada-Nya dengan mengikuti tuntunan Nabi-Nya yang mulia.

Wallahul Musta’an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XXI/1439H/2018M.  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]



Source link

قالب وردپرس